Cerita Anak

loading...
Angga dan Angsa Pemberian Paman
Bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Dengan sedikit berlari kulalui pagar sekolah yang sedang ditutup pak satpam. Di depan pintu kelas aku bertemu dengan Angga teman sebangku dari semenjak kelas satu. Dia teman yang menyenangkan, orangnya lucu dan sedikit usil.
Sudah beberapa hari Angga tidak masuk kelas dengan alasan pulang kampung untuk berlebaran. Tentu banyak cerita dan oleh-oleh yang dibawa dari kampung. Aku ingin sekali mendengar pengalamannya di kampung, sekaligus ingin menikmati lagi kue-kue yang enak seperti tahun lalu, saat kami berkunjung ke rumahnya yang disuguhkan oleh orang tua  Angga. Aku sering main ke rumah Angga bersama teman-teman yang lain, kami merasa nyaman karena orang tuanya sangat baik sekali.
“Angga, lama tak jumpa, bagaimana kabarmu?”. Tanyaku sambil menepuk pundaknya.
Aku terkejut melihat sikap Angga tak seperti biasanya. Dia tak menjawab pertanyaanku, malah dia langsung masuk kelas menuju bangkunya. Mungkin dia kecapean habis perjalanan jauh, pikirku. Memang mudik atau pulang kampung sangat melelahkan belum lagi terkena macet di jalan seperti kulihat di telivisi arus balik masih terjadi kemacetan di mana-mana.
Aku duduk di samping Angga. Dia terlihat murung, ini bukan sikap Angga yang selalu ceria dan kalau dia berbicara selalu mengundang ketawa. “Ada apa dengan Angga?”. Tanyaku dalam hati.
Pelajaran demi pelajaran kami ikuti dengan baik. Kulihat Angga masih sibuk dengan sendirinya. Aku yakin dia tidak konsentrasi dengan materi yang diberikan Bu Nisa.
Bel istirahat berbunyi. Bu Nisa mengakhiri pelajarannya. Aku langsung menarik tangan Angga, dia terkejut. Kucoba tersenyum, namun Angga tetap berwajah muram.
“Ke kantin, yuk?”. Ajakku kepada Angga. Dia hanya menggelengkan kepalanya tanda tak mau di ajak ke kantin.
“Aku lihat dari tadi pagi kamu kelihatan murung terus, ada apa Angga? Apa kamu sakit?”. Tanyaku dengan serius.
 Angga tetap diam membisu. Dan menghindari tatapanku yang penuh keheranan atas perubahan sikapnya. Mungkin ada suatu masalah yang tak ingin diketahui oleh siapapun, termasuk diriku. Tapi bukannya aku ini sahabatnya, seharusnya dia cerita kepadaku tentang masalahnya itu, siapa tahu aku bisa membantunya, gumamku dalam hati.
Pulang sekolah aku diam-diam akan berkunjung ke rumahnya dan ingin mengetahui sebab dari perubahan sikap Angga.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi kembali, kulihat Angga telah memasuki kelas dan duduk termenung di bangkunya. Aku pun duduk di bangku samping Angga dan sengaja tidak menegurnya.
Akhirnya bel panjang berbunyi tanda pulang sekolah. Kulihat Angga tergesa-gesa meninggalkan ruang kelas, hampir saja dia menabrak pintu kelas karena ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Aku dan beberapa teman yang lain heran dengan perbuatan Angga itu.
“Ada apa dengan dia?”. Tanya Radit padaku, setelah Angga menghilang di balik pintu. Aku hanya menggelengkan kepala sambil menjawab “Aku juga heran dengan sikap dia, dari tadi pagi tidak biasanya bersikap seperti itu”.
“Mungkin dia ada masalah di rumahnya. Lebih baik kita berkunjung ke rumahnya yuk?”. Ajak Budi kepada teman-teman yang lain.
“Aku juga sudah punya niat pulang sekolah mau berkunjung ke rumahnya, tapi kalau rame-rame lebih seru, bagaimana teman-teman”.
“Setujuuu...”.
Maka berangkatlah aku, Radit, Budi, Rudi dan Andi berjalan menuju rumah Angga. Rumah Angga tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Hanya sekitar sepuluh menit ditempuh dengan jalan kaki.
 “Assalamu’alaikum...”.
“Wa’alaikumsalam... oh teman-temannya Angga ya, mari masuk”.
“Makasih bu, kami ingin bertemu Angga”. Jawabku.
“Oh, Angga lagi ada di belakang rumah, tadi pulang sekolah langsung sibuk sendiri di belakang rumah. Silahkan ke belakang saja nemui Angga”.
Kami ke belakang rumah Angga lewat pintu dapur.
“Hai Angga, lagi apa? Kami datang berkunjung”. Teriakku sambil melambaikan tangan.
Angga terkejut dengan kedatangan kami, kemudian dia tersenyum dan melambaikan tangan agar kami menghampirinya.
Ternyata Angga sedang membelah bambu untuk membikin pagar, entah pagar untuk apa?. 
“Untuk apa bambu-bambu itu, Angga?”. Tanya Rudi.
“Aku lagi bikin kandang Angsa. Kemarin pulang kampung aku diberi hadiah Induk Angsa dan enam ekor anak-anaknya oleh pamanku”. Jawab Angga.
“Oh, jadi kamu murung di sekolah tadi pengen cepat-cepat pulang untuk bikin kandang angsa ya”. Ujarku sambil membantu membelahi bambu.
“Iya, aku sedih sekali, kemarin seekor anak Angsa digigit kucing lalu dibawa pergi, mungkin dimakan oleh kucing itu. Lalu aku ingin bikin kandang yang baik supaya Angsa-angsaku tetap hidup dan berkembang biak menjadi banyak”.
“Wah, kalau angsanya sudah banyak, kamu bisa jadi pengusaha ternak angsa donk”. Kata Andi.
“Aku janji deh, kalau sudah menjadi banyak kuberikan satu orang satu ekor angsa. Ayo teman-teman bantu aku bikin kandang angsa”.
“Siaaaap...”.  Jawab kami serempak dengan penuh semangat.
Tak terasa senja telah datang, kandang angsa pun telah jadi dengan alat senderhana, kami pun memindahkan anak-anak angsa dan induknya ke kandang yang kami buat, anak-anak angsa saling berkejaran di kandang yang cukup luas, kamipun sangat puas.  

0 Response to "Cerita Anak"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Mgid

Iklan Bawah Artikel